Ia terlibat 24/7

“Kalau saja aku tidak dilahirkan di keluarga yang seperti ini, mungkin hidupku akan lain ya, Mbak, ” ujarnya menatapku dengan mata sebak air mata. “Ya, aku paham,” sahutku sambil mengangguk ringan pada gadis manis usia dua puluhan yang duduk di bangku kayu di hadapanku itu.

“Ada sebuah jamur yang tumbuh di sebuah hutan,” lanjutku sambil tersenyum. “Tiap hari ada saja yang dikeluhkannya. Entah itu sinar matahari yang kurang karena sebagian kepalanya tertutup daun lebar keladi yang tumbuh di dekatnya. Atau, ia merasa terganggu dengan tetesan air hujan yang menetes di kepalanya dari daun pohon yang menjadi tetangganya, saat hujan telah berhenti. Merasa tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk pindah.” Aku berhenti sejenak. “Terus?” Gadis itu menatapku menyimak.

“Ya, ia memulai petualangannya mencari tempat baru yang diidamkannya. Ia bersiul-siul sambil berjalan. Tiba-tiba  ‘Auh!’ dia menjerit kesakitan karena beberapa serabut akarnya putus tersangkut tanaman berduri saat ia menuruni jalan curam menuju tepi sungai… . Ketika ia sibuk menyesali kenapa pilih jalan itu, dia tidak menyadari jalannya licin berlumpur dan … ‘TOLOOOOONG!!’ … ia terpeleset dan tercebur ke sungai yang alirannya deras itu… ia hanyut tak sadarkan diri.

Saat sadar ternyata ia terhenti tersangkut dahan pohon yang jatuh melintang memotong sebagian aliran sungai itu. ‘Aduh, untung sekali!’ Gumamnya sambil pelahan bangkit dan mencoba duduk. Setelah kekuatan dan semangatnya kembali, ia berdiri dan mulai mendaki tepian sungai. Sinar matahari yang hangat menghangatkan tubuhnya, ia tersenyum terhibur. Angin sepoi yang berhembus lembut  membelai dan mengeringkan tubuhnya, ‘Aduh, Tuhan sungguh baik padaku,” dia mulai bersenandung melanjutkan perjalanan.

Akhirnya tibalah ia di tempat yang terasa begitu pas baginya. ‘Wah, segalanya begitu pas!’ Mulailah ia menyanyi dengan riang. “Allah itu baik… Allah itu baik… Ia baik pada saya!’ Ia melihat semua tetangga barunya tersenyum ramah menyambutnya. Ia merasa ada yang menggamit lembut di daun kepalanya dan suara hangat ramah menyapa, ‘Hai Teman, selamat datang ya, kami semua senang akhirnya kamu pulang, kami semua sayang padamu!’

‘Oh!’ Ia segera menoleh ke arah datangnya suara bersahabat itu, ‘Ah dia kenal! Itu Keladi tetangganya dulu!’ Ia tertawa lepas, ‘Hahaha… ya, terima kasih, Keladi!’ Ia menyanyi dengan nyaring sekarang, ‘Allah itu baik! Allah itu baik! Ia baik pada saya!’ Malah semua ikut menyanyi dengan riang bersamanya.” Gadis itu tersenyum mengangguk, “Ya, jadi Tuhan tidak salah menempatkan aku, ya?” Aku tersenyum menatapnya lembut, “Ya, Tuhan punya rencana yang indah buatmu dengan menempatkan kamu di keluargamu. Allah kita sungguh baik.”

Kuraih tangannya, kugenggam hangat, “Mulailah bersyukur.” Gadis itu tersenyum, menatapku hangat, “Ya, aku mau.” Kami berdua menundukkan kepala mengucap syukur pada Tuhan.

🙂

🙂

Sebelum dunia dijadikan. Sebelum kita ada di kandungan ibu kita. Tuhan telah menetapkan rencana yang khusus dan sangat baik buat tiap orang. Sejak hadir di kandungan ibu, Ia menemani dan terlibat 24/7 serta menepati janji-Nya, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau. Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Dalam kedaulatan-Nya kamu aman sepenuhnya, tiap detail hidupmu terjadi dalam rencana terbaik-Nya yang tak pernah gagal buatmu. Nikmati dengan penuh syukur.

Iklan