Penolongku 24/7

Hening, aku dan para peserta seminar kepemimpinan tingkat lanjut yang lain memandang tampilan di layar.  Terpampang di sana badan pesawat yang jatuh hancur terbelah di puncak salah satu bukit di Bolivia.

Aku mengalihkan pandanganku pada Pembicara yang berdiri di samping kanan layar itu, dengan ketenangan dalam suaranya ia melanjutkan kisahnya, “… Orang itu menyampaikan berita bahwa pesawat yang dikemudikan oleh suami saya telah jatuh dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Ia bertanya, ‘Apa yang harus kami lakukan?’

‘Tunggu sebentar,’ jawab saya, “Saya berlutut dan bertanya pada Tuhan, Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana hidup saya tanpa suami di sisi saya? …

“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari TUHAN,
yang menjadikan langit dan bumi.”

… kamu tidak sendirian, dengan atau tanpa suamimu, AKU TUHAN penolongmu.”

Saya bangkit dan berkata, ‘Antar saya ke sana.’ Menurut perhitungan manusia tidak mungkin suami saya masih hidup,” lanjutnya, “Suami saya ditemukan dan ia masih hidup bersama saya. Sampai sekarang ia masih menerbangkan para pasien dengan pesawat agar mendapat pertolongan di rumah sakit. Tapi sejak itu saya berubah, TUHAN penolong saya, dengan atau tanpa suami, saya tak sendirian.”

🙂

🙂

Tuhan mengenal tiap orang dengan sempurna, Ia Penciptanya. Ia tahu di mana titik nol tiap orang. Lajang maupun menikah, sama. Tiap orang yang ingin mengenal-Nya, dibawa-Nya ke titik itu, untuk menyadari tidak ada apa pun dan siapa pun yang dapat dan patut diandalkan, selain Dia. Itu menjadi titik awal melangkah sendiri bersama Tuhan, mengalami Tuhan Penolongku tiap saat, 24/7. Sejak itu cari Dia dulu, bukan yang lain.

Iklan