Maafkan

Angin bertiup segar menerpa wajahku yang dimanja hangatnya sinar mentari pagi… hmmm… aku mengangkat wajah memejamkan mata… mengulum senyum…

Aku berdiri sambil berpegangan pada pipa besi pagar geladak depan River Cat ferry yang sedang menyusuri Sungai Parramatta yang lebar, tenang dan bersih. Perahu ulang-alik angkutan umum kota Sydney, yang terkenal itu, setiap hari mengangkut penumpang jurusan Parramatta-Circular Quai (baca: Sirkular Qi) pelabuhan transit yang besar, penting, dan cantik dekat Opera House.

Anak-anak bersama orang tua mereka, turis domestik dan manca negara, serta penumpang warga kota Sydney, ada di ferry itu. Ada yang duduk di dalam, di samping, di geladak belakang dan depan; atau memilih berdiri di geladak seperti yang kulakukan. Bila udara cerah, indah dan sejuk seperti hari itu, sudah pasti aku memilih berdiri di tempat favoritku, paling depan tengah.

Jeprat…Jepret… para turis yang berdiri di geladak bersamaku merekam pemandangan indah dan menarik di sepanjang perjalanan… . Tiba-tiba sebuah pesawat dari arah belakang terbang ringan melintas agak rendah menarik perhatian kami yang ada di situ… mata dan kepala kami mengikuti arah perginya pesawat itu yang melesat lincah tinggi di langit… ia berputar cantik dan mengeluarkan asap warna… putih … Wow! … bagai pena ia menulis sesuatu di langit biru bersih… huruf demi huruf… y… r… r… o… s… lalu dengan manis ia berputar dan melesat menjauh tinggi kelihatan makin kecil lenyap tertutup awan…

Kami terpana membaca jelas di langit biru … s o r r yHari itu, 26 Januari 2007, adalah Australia Day pertama buatku sejak pindah ke Sydney bulan Desember 2006. Kami terdiam… ferry tetap melaju… pesan “sorry” di langit makin memudar di langit… namun aku menyimpannya di hati ditambah tanya di benakku… pesan itu dari siapa dan untuk siapa? … Itu pertanyaan pertamaku saat berjumpa sahabatku yang menjemput di Circular Quai.

Pesan itu dari kaum Aborigin (penduduk asli benua Australia) yang minta kepada pemerintahan John Howard untuk say sorry, karena parlemen dan pemerintah telah memisahkan anak-anak dari ibu mereka, untuk alasan menyelamatkan generasi itu dari kekerasan domestik. Lebih dari 50.000 anak dari tahun 1910 hingga 1970 diambil dan dipisahkan dengan paksa, bahkan antara kakak dan adik kandung. Mereka disebut dengan “the stolen generations”.

Saya menyaksikan hari bersejarah itu, 13 Februari 2008, PM Kevin Rudd atas nama Parlemen dan Pemerintah secara resmi minta maaf, … say sorrykepada “the stolen generations” serta segenap keluarga mereka. Mengakhiri penantian, duka, luka, hinaan, dan derita panjang akibat hukum dan tindakan Parlemen dan Pemerintah.

Bukan hanya kaum Aborigin tetapi segenap warga Australia mencucurkan air mata, mendengarkan langsung maupun menyaksikan lewat layar kaca, pidato dengan 361 kata “apologise” PM Kevin Rudd selama setengah jam dari pukul 09.00-09.30 itu.

“Maafkan” … “sorry” … seketika melegakan, memulihkan, mendamaikan… di detik itu…

🙂

🙂

Maaf dan pengampunan itu menyembuhkan, bagi yang minta maaf maupun yang mengampuni. Katakan, jangan hanya disimpan di hati. Gengsi takkan menolong, malah mengipas bara di dalam dada. Letakkan, dan katakan, “Maafkan aku.” Seketika kerendahan hati dan damai Allah mengisi relung hatimu, meronai hidupmu, dan menjadi milikmu. Katakan.

Iklan