TUHAN mencukupimu 24/7

Sinar mentari pagi hangat menembusi kaca pintu dan jendela samping apartemen yang kutempati, angin berhembus segar masuk lewat jendela dapur yang kubuka.

Aku segera menyiapkan bekal sarapan pagi, roti isi tuna dan kopi Toraja di gelas termos. Aku juga mengeluarkan roti beku dari lemari es, lalu memotong-motongnya dan memasukkannya ke kantong plastik. Kumasukkan semua ke dalam tas punggung bersama buku yang akan kuteruskan baca, buku jurnal serta pensil, kecuali gelas termos.

Aku bergegas berganti pakaian dan hanya bersandal jepit, aku membawa semua bawaan keluar gedung apartemen di North Parramatta, Sydney, itu dan menuju Parramatta Park yang letaknya sekitar sepuluh-lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalku.

Menyusuri jalan yang cukup sepi di bawah naungan pohon-pohon rindang sepanjang jalan, menghirup harumnya bunga melati yang dibawa angin yang berhembus, merupakan aromaterapi surgawi buatku…

Setelah melintasi jalan menurun dan jembatan kecil menyeberangi Parramatta River, aku berjalan agak mendaki masuk area taman budaya yang luas dan bersejarah itu, menuju bangku dan meja taman kesukaanku di dekat kedai kopi di pinggir sungai.

Aku mengeluarkan dan menaruh semua bawaanku di meja taman, lalu duduk menghadap sungai yang bersih dan tenang, menikmati sarapan pagiku di bawah naungan pohon jacaranda yang dipenuhi bunganya berwarna ungu selama musim semi. Sesekali aku menghirup kopi hangat yang kubawa.

Aneka burung mulai terbang dan hinggap di sekitarku atau berjalan mendekati, aku berbagi senyum dikulum memandangi gerak-gerik mereka yang menarik dan lucu… nanti ya tunggu giliran kataku dalam hati kepada mereka…

Aku mulai menulis apa yang kurenungkan pagi itu di buku jurnalku… aku bersyukur untuk angin sejuk bertiup sepoi-sepoi, untuk sinar mentari yang menimpa daun-daun pohon di tepi sungai jadi berkilau keperakan, aku mempercayakan diriku kepada Allah yang kuyakini memeliharaku dengan setia… akan mencukupiku…

Lalu aku meneruskan membaca buku beberapa halaman. Kemudian mengemasi semua bawaanku, memasukkannya kembali ke dalam tas punggungku, mengeluarkan kantong plastik berisi potongan roti itu dan beranjak pergi…

Aku berjalan menuju pinggir sungai dan mulai menebarkan potongan roti… aneka burung dari berbagai jurusan terbang datang dan ada yang berjalan dari arah sungai menghampiri, berebut makan roti dengan ceria… Aku tersenyum memperhatikan tingkah bebek dan anak-anaknya, kakak tua putih jambul kuning, burung gagak hitam, merpati, dan beberapa jenis lagi lainnya…

Suara lembut berbisik di sanubariku… sama seperti Aku memberi makan burung-burung ini dan menggerakkan hatimu untuk berbagi… dengan cara yang sama Aku akan memelihara dan mencukupi kamu… “Ya, aku percaya kepada-Mu, ya Allah…,” bisikku kepada-Nya di hati.

Aku menarik nafas pelahan dan menghembuskannya kembali dengan kelegaan tak terkira… sambil melangkahkan kaki pulang… .

🙂

🙂 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Allah menyediakan, Allah memelihara. Cukup. Bagianmu: percaya saja.