Tanam benih-benihmu…

Aku merogoh ke dasar tas tanganku. Ada beberapa pembungkus, beberapa bukti pembayaran, dan beberapa
barang remeh lainnya ditemukan oleh jari-jariku. Dan aku
menyentuh sebuah amplop persegi, kecil.

“Apa itu?” Aku bertanya-tanya.

Aku mengeluarkannya dan ternyata itu berisi benih-benih rempah Rosemary. Stephanie Bryant menghadiahkannya kepadaku saat penanaman pertama di The Farm.

Aku dalam perjalanan pulang ke rumah dengan niat baik untuk menanam benih-benih itu dalam pot di hari itu juga.

Dan kehidupan pun menjadi sibuk.

Aku berhenti sejenak dan berpikir tentang bagaimana aku berlaku sama terhadap jenis benih-benih yang lain—maksud-maksud, gagasan-gagasan, kata-kata yang dapat kutuliskan.

Aku membawa semuanya pulang ke rumah ke hatiku dan berpikir, “Ya! Aku mau menanam benih-benihku.”

Dan kemudian kehidupan pun menjadi sibuk.

Ada yang merasa begitu juga?

Kabar baiknya adalah—belum terlambat.

Kita masih bisa menanam benih-benih kita.

Kita masih bisa berkata “ya” terhadap apa yang Allah pinta kepada kita.

Kita masih bisa melihat tunas baru tumbuh di hidup kita.

Tanamlah benihmu di pagi hari, dan di senja hari jangan biarkankan tanganmu berhenti, karena kamu tidak tahu manakah yang akan berhasil, entah ini atau itu, atau keduanya sama-sama berhasil.

{Apa kamu menangkapnya? Kita bahkan tak tahu pasti bagaimana bertumbuhnya.}

Aku kira aku hingga kini ada pot cantik di dalam garasiku yang memanggil-manggil namaku hari ini…

Kamu juga?

Seijin Holley Gerth, Plant your seeds… 

Iklan