Inspeksi

Selidiki aku, ya Allah, dan kenali hatiku: uji aku, dan kenali pikiran-pikiranku: dan lihat bila ada hal yang jahat di dalamku, dan tuntun aku di jalan yang kekal.

Aku menemukan betapa sangat nyaman dan meyakinkan, mengijinkan istriku memeriksa penampilanku dengan saksama sebelum aku keluar pintu depan rumah untuk memulai hari. Aku tahu, bila dia melihat sesuatu di penampilanku, yang terluput olehku, dia akan memberitahuku. Bila dia melihat ada kotoran di wajahku, ada noda di kemejaku, sabuk yang belum dirapikan, atau kombinasi warna tak serasi; dia dengan gamblang, jelas, dan penuh kasih memberitahuku. Kepedulian pengamatannya telah menyelamatkan aku dari banyak malu selama bertahun-tahun.

Begitu pula, rasa nyaman dan yakinnya setara, mengijinkan Allah “memeriksa sekali lagi” penampilan kita sebelum kita keluar pintu rumah untuk memulai hari. Betapa bijaknya kita ketika mengijinkan Dia menginspeksi kita, memastikan segalanya telah tepat—memastikan bahwa tidak ada amarah atau kepahitan mengeraskan hati kita, memastikan tidak ada ketakutan atau kekuatiran membebani di pikiran kita, dan memastikan tidak ada ketidakpercayaan atau keraguan membayang di batin kita. Betapa akan diberkatinya hari kita, bila kita dapat meninggalkan rumah setiap pagi, dengan mengetahui jiwa kita sehat.

Seijin Roy Lessin dan DaySpring, Meet Me In The Meadow30.10.2009

Awan Lembayung

Sore itu di jam pulang kantor, kereta api yang aku tumpangi bergerak dari stasiun Parramatta menuju Sutherland, Sydney. Bersyukur aku masih mendapat tempat duduk. Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat, tubuhku terasa lemas, tenaga serasa terkuras selesai wawancara kerja dari pagi jam sebelas hingga jam satu siang di Castle Hill—yang jarak tempuhnya ke Parramatta dua jam lebih dengan bis.

Aku menghela nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelahan, duduk bersandar, mengendorkan otot-otot kaki dan badan, berusaha menyiapkan diri untuk menghadapi wawancara kerja sebentar malam di Sutherland. Namun suara cecaran pertanyaan tajam salah satu pewawancara tadi memenuhi benakku, bercampur suara protes keras di batinku tak terima hak-hakku dilanggar… gemuruhnya seolah mengalahkan gelegar canda tawa para pelajar yang berdiri berdesakkan di depan tangga di dalam kereta dua tingkat itu. … Air mata mulai merebak di mataku… .

Dari tempat dudukku di deretan sebelah kiri itu, aku melayangkan pandanganku ke jendela sebelah kanan, menembusi bagian atasnya yang terbuka, terlihat langit berwarna lembayung… Awan yang berarak-arakan tertimpa sinar matahari yang akan terbenam… Hmmm… cantik!…  Seketika kelelahan dan ketegangan terasa mereda bersamaan dengan luruhnya kemarahan di dalamku. Dengan pelahan aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelahan… “Terima kasih untuk alam indah ciptaan-Mu ya Tuhan,” bisikku kepada-Nya di hati, air mataku meleleh pelan… tenteram.

🙂

🙂

Jangan marah karena orang yang berbuat curang, saat kamu menoleh mereka telah tiada. Allah Hakim Mahaadil melihat hati. Bila amarah bergemuruh, berbaringlah, rileks, utarakan semua kepada Allah, tetap tutup mulut. Allah mengerti, Allah melihat, Allah peduli. Boleh marah, tetapi letak tepatnya bukan di atas kepala, atau dalam dada. Di tangan. Serahkan berkas perkara kepada-Nya. Jangan mentari terbenam kala kamu masih marah. Bersukacita di dalam Tuhan! Rahasianya.