Bergayut pada TUHAN 24/7

Courtesy of Mike Neal

Courtesy of Mike Neal

Tuhan hingga kini mengerjakan rencana-rencana-Nya bagi hidupku sebab kasih-Nya tetap selamanya. 

IMAN–bagai berselancar di atas gelombang kehidupan yang membuat aku bergayut pada Tuhan 24/7!

The Lord has been working out His plans for my life for His faithful love endures forever.

FAITH–is like surfing on life’s waves that makes me clinging to the Lord 24/7!

Photo courtesy of Mike Neal.

Iklan

Syukurku kepada-Mu, TUHANku 24/7

Syukurku yang terdalam kepada-Mu, Tuhanku!

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir.

Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau hingga kini mengerjakan rencana-rencana-Mu bagi hidupku, sebab kasih setia-Mu tetap selamanya.

🙂

🙂 Aku spesial dan ajaib. Aku sangat berharga di mata Allah. Rencana yang khusus bagiku telah ditetapkan-Nya sebelum dunia diciptakan, dan sebelum aku dilahirkan. Yang terpenting, apa rencana-Nya bagi hidupku, bukan apa rencana-rencanaku bagi-Nya.

ALLAH mengaturkan bagiku

Setelah dua minggu menanti-nanti kabar dari teman-teman untuk nonton bareng film layar lebar “The Chronicles of Narnia: Prince Caspian”, eeh… batal nonton bareng. Jadi, hari itu aku ke gedung bioskop di Wesfield, Parramatta, di Sydney, rencana nonton film kelanjutan “Narnia”, karya menakjubkan produksi Walt Disney yang menuangkan dengan sangat baik novel terkenal karya CS Lewis itu, eeh… sudah tidak main. Tidak ada pilihan selain menunggu DVD resminya keluar.

Aku segera disibukkan dengan persiapan berlibur ke Auckland, North Island, New Zealand. Saat itupun tiba, di bandara Auckland aku disambut senyum manis dan pelukan hangat sahabat karibku yang baru pindah setahun ke sana, wajah ceria dan jabat erat suaminya, dan peluk cium penuh semangat putrinya yang berusia tujuh tahun. Begitu keluar bandara, angin dingin menusuk menerpa wajahku, badai hujan es baru usai.

Cwit, cwit… Brrr… Cwit, cwit… Brrr… Burung-burung menyambut fajar tak peduli dengan dingin menusuk di musim dingin Juli 2008 itu. Aku, keponakanku yang kuliah di Auckland, sahabat karibku sekeluarga, setelah sarapan segera berkemas. Hari Minggu itu kami ke Cathedral Cove, bagian dari Coromandel Peninsula. Kami menikmati pemandangan indah sepanjang jalan melalui kaca jendela mobil.

Kami tiba, berdecak kagum… dari atas menikmati pemandangan debur air laut, pantai cantik, batu karang, langit biru, paduan menakjubkan. Sahabatku dengan kandungan usia tujuh bulan ingin turun ke Cathedral Cove, jadi kami beriringan menyusuri jalan setapak yang menurun menuju pantai. Padang dan pepohonan tempat pengambilan gambar film “The Lord of the Rings” terlihat dari jalan setapak yang kami lalui. Begitu sampai di bawah… WOW! Gua yang tembus pantai cantik dengan karang bagai tugu di tengah laut… Cathedral Cove! Kami di sana hingga matahari terbenam… indah!

Yang sungguh menggembirakan, di hari Kamis sahabatku bersama putrinya, mengajak aku dan keponakanku, … nonton film Prince Caspian di bioskop! Wow! Kami masuk, berbekal popcorn dan air minum. Tak lama kemudian film dimulai… tampak kakak beradik Peter, Susan, Edmund, Lucy, berada di peron sebuah stasiun… tiba-tiba ada kereta ekspres lewat dan mereka terhisap tiba di pantai yang sangat indah… dan…tempat itu! … Cathedral Cove!!!… Air mata syukur meleleh… Allah begitu baik… begitu baik… Dia mengaturkan bagiku liburan indah sempurna hingga detailnya… Sambil tetap menonton kisah luar biasa para tokoh menerjemahkan makna iman dalam perjuangan… hatiku tunduk takjub pada kebesaran dan kebaikan Allah yang tak terkira! Syukurku kepada-Mu, ya Allah… .

🙂

🙂

Allah akan melakukan rencana-rencana-Nya bagi hidupmu sebab kasihsetia-Nya tetap selamanya. Yang terpenting bukan apa rencana-rencanaku bagi-Nya, melainkan apa rencana-rencana Allah bagiku. Ini doaku selalu, “Bila ini dalam rencana-Mu bagi hidupku, tolong sediakan dan aturkan bagiku, ya Bapa.” Nikmati.


TUHAN mencukupimu 24/7

Sinar mentari pagi hangat menembusi kaca pintu dan jendela samping apartemen yang kutempati, angin berhembus segar masuk lewat jendela dapur yang kubuka.

Aku segera menyiapkan bekal sarapan pagi, roti isi tuna dan kopi Toraja di gelas termos. Aku juga mengeluarkan roti beku dari lemari es, lalu memotong-motongnya dan memasukkannya ke kantong plastik. Kumasukkan semua ke dalam tas punggung bersama buku yang akan kuteruskan baca, buku jurnal serta pensil, kecuali gelas termos.

Aku bergegas berganti pakaian dan hanya bersandal jepit, aku membawa semua bawaan keluar gedung apartemen di North Parramatta, Sydney, itu dan menuju Parramatta Park yang letaknya sekitar sepuluh-lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalku.

Menyusuri jalan yang cukup sepi di bawah naungan pohon-pohon rindang sepanjang jalan, menghirup harumnya bunga melati yang dibawa angin yang berhembus, merupakan aromaterapi surgawi buatku…

Setelah melintasi jalan menurun dan jembatan kecil menyeberangi Parramatta River, aku berjalan agak mendaki masuk area taman budaya yang luas dan bersejarah itu, menuju bangku dan meja taman kesukaanku di dekat kedai kopi di pinggir sungai.

Aku mengeluarkan dan menaruh semua bawaanku di meja taman, lalu duduk menghadap sungai yang bersih dan tenang, menikmati sarapan pagiku di bawah naungan pohon jacaranda yang dipenuhi bunganya berwarna ungu selama musim semi. Sesekali aku menghirup kopi hangat yang kubawa.

Aneka burung mulai terbang dan hinggap di sekitarku atau berjalan mendekati, aku berbagi senyum dikulum memandangi gerak-gerik mereka yang menarik dan lucu… nanti ya tunggu giliran kataku dalam hati kepada mereka…

Aku mulai menulis apa yang kurenungkan pagi itu di buku jurnalku… aku bersyukur untuk angin sejuk bertiup sepoi-sepoi, untuk sinar mentari yang menimpa daun-daun pohon di tepi sungai jadi berkilau keperakan, aku mempercayakan diriku kepada Allah yang kuyakini memeliharaku dengan setia… akan mencukupiku…

Lalu aku meneruskan membaca buku beberapa halaman. Kemudian mengemasi semua bawaanku, memasukkannya kembali ke dalam tas punggungku, mengeluarkan kantong plastik berisi potongan roti itu dan beranjak pergi…

Aku berjalan menuju pinggir sungai dan mulai menebarkan potongan roti… aneka burung dari berbagai jurusan terbang datang dan ada yang berjalan dari arah sungai menghampiri, berebut makan roti dengan ceria… Aku tersenyum memperhatikan tingkah bebek dan anak-anaknya, kakak tua putih jambul kuning, burung gagak hitam, merpati, dan beberapa jenis lagi lainnya…

Suara lembut berbisik di sanubariku… sama seperti Aku memberi makan burung-burung ini dan menggerakkan hatimu untuk berbagi… dengan cara yang sama Aku akan memelihara dan mencukupi kamu… “Ya, aku percaya kepada-Mu, ya Allah…,” bisikku kepada-Nya di hati.

Aku menarik nafas pelahan dan menghembuskannya kembali dengan kelegaan tak terkira… sambil melangkahkan kaki pulang… .

🙂

🙂 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Allah menyediakan, Allah memelihara. Cukup. Bagianmu: percaya saja.

TUHAN pelindungmu 24/7

Sore itu hujan lebat mengguyur, angin bertiup kencang, petir menyambar-nyambar, tetapi aku tetap harus pergi ke Malang, ikut kursus bahasa Inggris privat. Setelah pamit kepada ibuku, aku keluar pintu rumah, mengembangkan payung, dan berjalan ke tepi jalan menunggu mobil angkutan umum Batu-Malang.

Dari jauh kelihatan ada mobil angkutan yang turun dan aku segera mengedangkan tangan. Mobil berhenti, dan aku bergegas menyeberang jalan. Basah, tetapi lega sudah berada di dalam mobil yang hangat karena penuh sesak penumpang.

Mobil yang kutumpangi segera melaju tidak terlampau kencang di tengah hujan badai. Hampir masuk Dinoyo, mobil bergerak lebih lambat karena jalanan lebih sempit dan mulai padat kendaraan. Tiba-tiba… BUMM!!!… semua penumpang terkejut spontan menoleh ke belakang, mobil yang kami tumpangi berhenti… sebuah pohon asam besar roboh, tepat di belakang mobil kami… “Aduuuh…! Untung sudah lewat!” Seru beberapa penumpang. Sopir dan kenek turun memeriksa ke belakang.

Tak berapa lama kemudian mereka kembali, “Wah, untung!” Seru kenek melaporkan sambil naik kembali ke mobil. “Terlambat sedikit, kita kena!” Kami menarik napas lega… . Mobil pun berjalan lagi, lambat karena kendaraan dari arah berlawanan harus berhenti menunggu pohon roboh tadi dipotong-potong dan disingkirkan.

Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berderit, penumpang berteriak dan berpegangan erat, karena rem mendadak diinjak sopir mobil… kami melihat sebuah pohan asam bergerak tumbang persis di depan mobil kami! … BUMMM!!!… Nyaris! Kami semua terpaku di tempat duduk masing-masing. Sopir dan kenek meminta seluruh penumpang turun agar kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang lain.

Kaki terasa lunglai… di atas bemo roda tiga yang membawaku melanjutkan perjalanan ke Malang… hatiku penuh syukur tak terhingga, dijaga, dilindungi sempurna… bercampur kesadaran di benakku, nyawa dapat melayang kapan pun… semua di tangan Allah Sang Pencipta! 

🙂

🙂 “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. … Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.” Kamu aman dalam Tangan-Nya yang Mahakuat dan Mahakasih!


Ia terlibat 24/7

“Kalau saja aku tidak dilahirkan di keluarga yang seperti ini, mungkin hidupku akan lain ya, Mbak, ” ujarnya menatapku dengan mata sebak air mata. “Ya, aku paham,” sahutku sambil mengangguk ringan pada gadis manis usia dua puluhan yang duduk di bangku kayu di hadapanku itu.

“Ada sebuah jamur yang tumbuh di sebuah hutan,” lanjutku sambil tersenyum. “Tiap hari ada saja yang dikeluhkannya. Entah itu sinar matahari yang kurang karena sebagian kepalanya tertutup daun lebar keladi yang tumbuh di dekatnya. Atau, ia merasa terganggu dengan tetesan air hujan yang menetes di kepalanya dari daun pohon yang menjadi tetangganya, saat hujan telah berhenti. Merasa tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk pindah.” Aku berhenti sejenak. “Terus?” Gadis itu menatapku menyimak.

“Ya, ia memulai petualangannya mencari tempat baru yang diidamkannya. Ia bersiul-siul sambil berjalan. Tiba-tiba  ‘Auh!’ dia menjerit kesakitan karena beberapa serabut akarnya putus tersangkut tanaman berduri saat ia menuruni jalan curam menuju tepi sungai… . Ketika ia sibuk menyesali kenapa pilih jalan itu, dia tidak menyadari jalannya licin berlumpur dan … ‘TOLOOOOONG!!’ … ia terpeleset dan tercebur ke sungai yang alirannya deras itu… ia hanyut tak sadarkan diri.

Saat sadar ternyata ia terhenti tersangkut dahan pohon yang jatuh melintang memotong sebagian aliran sungai itu. ‘Aduh, untung sekali!’ Gumamnya sambil pelahan bangkit dan mencoba duduk. Setelah kekuatan dan semangatnya kembali, ia berdiri dan mulai mendaki tepian sungai. Sinar matahari yang hangat menghangatkan tubuhnya, ia tersenyum terhibur. Angin sepoi yang berhembus lembut  membelai dan mengeringkan tubuhnya, ‘Aduh, Tuhan sungguh baik padaku,” dia mulai bersenandung melanjutkan perjalanan.

Akhirnya tibalah ia di tempat yang terasa begitu pas baginya. ‘Wah, segalanya begitu pas!’ Mulailah ia menyanyi dengan riang. “Allah itu baik… Allah itu baik… Ia baik pada saya!’ Ia melihat semua tetangga barunya tersenyum ramah menyambutnya. Ia merasa ada yang menggamit lembut di daun kepalanya dan suara hangat ramah menyapa, ‘Hai Teman, selamat datang ya, kami semua senang akhirnya kamu pulang, kami semua sayang padamu!’

‘Oh!’ Ia segera menoleh ke arah datangnya suara bersahabat itu, ‘Ah dia kenal! Itu Keladi tetangganya dulu!’ Ia tertawa lepas, ‘Hahaha… ya, terima kasih, Keladi!’ Ia menyanyi dengan nyaring sekarang, ‘Allah itu baik! Allah itu baik! Ia baik pada saya!’ Malah semua ikut menyanyi dengan riang bersamanya.” Gadis itu tersenyum mengangguk, “Ya, jadi Tuhan tidak salah menempatkan aku, ya?” Aku tersenyum menatapnya lembut, “Ya, Tuhan punya rencana yang indah buatmu dengan menempatkan kamu di keluargamu. Allah kita sungguh baik.”

Kuraih tangannya, kugenggam hangat, “Mulailah bersyukur.” Gadis itu tersenyum, menatapku hangat, “Ya, aku mau.” Kami berdua menundukkan kepala mengucap syukur pada Tuhan.

🙂

🙂

Sebelum dunia dijadikan. Sebelum kita ada di kandungan ibu kita. Tuhan telah menetapkan rencana yang khusus dan sangat baik buat tiap orang. Sejak hadir di kandungan ibu, Ia menemani dan terlibat 24/7 serta menepati janji-Nya, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau. Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Dalam kedaulatan-Nya kamu aman sepenuhnya, tiap detail hidupmu terjadi dalam rencana terbaik-Nya yang tak pernah gagal buatmu. Nikmati dengan penuh syukur.

Rahmat baru 24/7

Pagi ini saat bangun… kasih setia TUHAN yang selalu baru tiap pagi, menguatkan aku untuk bangkit. Aku berjalan ke ruang tamu, lalu duduk di sofa, menyanyi dengan hati…

Besar setia-Mu, Allah Bapa-ku,
Besarlah kasih-Mu, berkelimpahan,
Tiada kurang, dan tidak berubah,
Besar setia-Mu kepadaku.

Besar setia-Mu, besar setia-Mu,
Tiap pagi nampak rahmat baru,
Segala yang kuperlu, t’lah Kau sediakan,
Besar setia-MU kepadaku.

Besar setia-Mu, besar setia-Mu… aku membaca sekali lagi Ratapan 3,

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”
(3:21-26)

Ya, terbukti!

🙂

🙂

Tengok hari-hari kemarin, pernahkah TUHAN tidak hadir? Ia ada 24/7 di sana. Hitung perbuatan baik-Nya padamu. Tatap esok, akan hadirkah TUHAN? Ia ada di sana, Ia pasti hadir. Janji-Nya pasti, ditepati. Hari ini, TUHAN hadir, siap tersedia rahmat-NYA, kekuatan baru dan berkat untukmu sepanjang hari ini. TUHAN harapanmu. Nikmati detik-detik hari ini bersama TUHAN. Segar.