SAHABAT SEJATI

Sahabatku Elaine, berjalan menuju ke arahku tanpa penyangga beroda yang biasa dipakainya untuk berpegangan saat berjalan. Kedua tangannya terentang lebar bagai mengayuh udara, mengimbangi langkah demi langkah.

Alat pengontrol yang ditanam di tubuhnya, penyangga leher, dan obat, membantunya mengatasi parkinson yang diidapnya. Ketika sampai, dengan senyum lebar dan mata berbinar dia menatapku, meraih merangkul pundakku, berpesan, “Sayangku, kapan pun kamu perlu, jangan ragu menelefonku, putraku akan menjemputmu di stasiun North Sydney. Sungguh ya kabari aku. Janji.” Aku tersenyum, mengangguk penuh terimakasih. “Ya, aku janji, terima kasih sekali, kamu begitu baik.” …

Memang untuk ke Northbridge, tempat aku mengajar anak-anak setiap hari Minggu, bus yang kutumpangi selalu menyebrangi Sydney Harbour Bridge yang terkenal itu. Tetapi ada kalanya jembatan itu ditutup untuk acara khusus seperti jalan pagi untuk keluarga, atau lomba bersepeda. Itu berarti aku harus meneruskan naik kereta ke stasiun North Sydney, dan tidak ada bus ke Northbridge. Jadi aku perlu menghubungi seseorang untuk menjemputku.

Hari itu Sydney Harbour Bridge kembali ditutup hingga pukul satu siang. Ingat pesan Elaine, aku telah menghubungi dia beberapa hari sebelumnya lewat surat elektronik maupun telefon, memastikan. Aku turun di stasiun North Sydney, berjalan keluar dan menanti putra Elaine untuk menjemputku. Elaine orang tua tunggal yang mengasuh dua anak tirinya yang sudah remaja dengan baik. Telefon genggamku berdering, suara Elaine yang khas menyapaku hangat, memberitahu untuk tunggu di depan stasiun lima menit lagi.

Mobil putih Elaine tampak mendekat, mengamati siapa pengemudinya… jantungku serasa berhenti berdetak… HAH?! … Elaine?!! … Dengan senyum lebar dia melambaikan tangan kanannya keluar jendela sebelah kanan, tangan kirinya mendekap kedua anjing kesayangannya…

Aku bergegas menghampirinya, membuka pintu depan sebelah kiri, dan berseru, “Wow! Kamu wanita luar biasa! … kamu wanita luar biasa!!” Aku masuk dan duduk, dia menyambutku dengan peluk cium hangat ala Australia, tertawa lebar, sambil berkata, “Ya, sayangku… kedua putraku sudah pergi entah ke mana pagi ini, jadi aku putuskan untuk menjemputmu!” Sambil memasang sabuk pengaman, aku memandanginya kagum,. Dia melepas rem dan mobil pun mulai melaju. Aku tak berani bertanya apakah dia dijinkan mengemudi dalam kondisi seperti itu.

Tangan kirinya memeluk kedua anjingnya, dia bercerita sambil mengemudi hanya dengan tangan kanannya… hmmm… aku pasrah… tegang dan membisikkan doa di hati… Kami melewati jembatan satu lagi setelah tikungan tajam, dan akhirnya sampai… . Elaine memarkir mobilnya di parkiran sebelah rumahnya, kami turun, dia menurunkan penyangga berodanya dari bagasi, membukanya dan kami jalan bersama menuju rumahnya memulangkan kedua anjingnya. Lalu kami berjalan bersama menuju tempatku bekerja… Tidak jauh.

Hampir setiap orang tua murid bertanya siapa yang menjemputku tadi…? “Elaine…” jawabku tersenyum tenang… mereka terbelalak… menahan napas.

🙂

🙂
“ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara”. Benar. Bila kamu tak memiliki seorang sahabat sejati, jadilah seorang sahabat sejati. Sahabat sejati memberikan yang terbaik bagi sahabatnya. Mendukung. Menemani. Menyayangi. Mendengarkan. Mengulurkan tangan. Berkurban. Sedia menegur. Teguran itu juga dukungan. Itu bukti kesejatiannya.

Iklan