RAHASIA BAHAGIA

Kisah penutup yang kubaca di buku karya Les Parrott mengenai kiat menghadapi orang yang sulit di hidup kita ini, hingga kini berulang kali menolongku…

Seorang gadis kecil melepaskan seekor kupu-kupu dari tanaman berduri… Eeh… kupu-kupu itu menjelma jadi peri! Peri itu bertanya, “Apa yang sangat kamu inginkan?” Gadis kecil itu menjawab, “Aku ingin bahagia.”

Peri itu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersenyum dan menyimpan apa yang dibisikkan peri itu di hati. Sejak itu dia menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Setiap kali ada orang bertanya kepadanya mengenai apa rahasia bahagianya, gadis itu tersenyum lembut dan berkata,”Oh, itu karena ada peri yang membisikkan sesuatu ke telingaku.”

Kala dia menjadi nenek berusia lanjut, orang takut rahasia bahagia itu akan dibawanya pergi saat tiada. “Ayolah, katakan kepada kami, apa rahasia bahagia yang dibisikkan peri itu kepadamu?” Bujuk mereka.

Dia mengangguk, sambil tersenyum lembut menjawab, “Peri itu membisikkan kepadaku, ‘Setiap orang, tak peduli seperti apa pun dia, membutuhkan dirimu.’ 

🙂

🙂

Sesulit dan serumit apa pun orang yang kamu hadapi… bertahan dan ingatlah dia membutuhkan dirimu. Sekuat dan semandiri apa pun orang itu… dia membutuhkan dirimu. Rahasia bahagianya: setiap orang membutuhkan dirimu.

Iklan

BERSYUKUR CUKUP

Satu hari sahabat karibku menelefon dan mengeluh lagi soal suaminya … Hmmm… kurang apa lagi punya suami begitu baik, rajin, dan bertanggung jawab… Aku bilang kepadanya, “Dijual saja.” … “Hah?! Dijual?” Serunya terperanjat di seberang sana.

“Iya,” jawabku tenang, “Pada suatu hari pemilik sebuah peternakan yang sangat luas, merasa tidak puas dan dia ingin menjual peternakan yang telah dirawatnya puluhan tahun. Lengkap dengan bungalo cantik di puncak bukit kecil di tengah peternakan itu.

Dia menghubungi agen properti, yang kemudian mengutus salah satu stafnya untuk memastikan bunyi teks iklannya kepada pemilik peternakan itu. Sudah tentu segala keunggulan peternakan dan bungalo itu ditampilkan sangat menarik. Saat membaca bunyi teks iklan itu dan melihat foto-foto yang terpampang… pemilik peternakan itu berdecak kagum dan berseru, ‘TIDAK JADI DIJUAL!! Ini adalah peternakan yang aku impikan berpuluh tahun…!’”

“Hahaha…” Sahabat karibku tak dapat menahan tawanya… “Jadi dijual?” Tanyaku kepadanya. “Hahaha… Tidak!” Sahutnya, “TIDAK JADI DIJUAL!!” “Hahaha…” Tawa kami berderai-derai… .

🙂

🙂

BERSYUKUR untuk apa yang ada di tanganmu. ALLAH yang meletakkannya di tanganmu. Minta kepada-NYA karunia RASA CUKUP. Sungguh benar: IBADAH itu bila disertai RASA CUKUP besar sekali MANFAATnya. Lagi pula Allah selalu memberi yang tepat. Tiliklah isi hatimu.

Maafkan

Angin bertiup segar menerpa wajahku yang dimanja hangatnya sinar mentari pagi… hmmm… aku mengangkat wajah memejamkan mata… mengulum senyum…

Aku berdiri sambil berpegangan pada pipa besi pagar geladak depan River Cat ferry yang sedang menyusuri Sungai Parramatta yang lebar, tenang dan bersih. Perahu ulang-alik angkutan umum kota Sydney, yang terkenal itu, setiap hari mengangkut penumpang jurusan Parramatta-Circular Quai (baca: Sirkular Qi) pelabuhan transit yang besar, penting, dan cantik dekat Opera House.

Anak-anak bersama orang tua mereka, turis domestik dan manca negara, serta penumpang warga kota Sydney, ada di ferry itu. Ada yang duduk di dalam, di samping, di geladak belakang dan depan; atau memilih berdiri di geladak seperti yang kulakukan. Bila udara cerah, indah dan sejuk seperti hari itu, sudah pasti aku memilih berdiri di tempat favoritku, paling depan tengah.

Jeprat…Jepret… para turis yang berdiri di geladak bersamaku merekam pemandangan indah dan menarik di sepanjang perjalanan… . Tiba-tiba sebuah pesawat dari arah belakang terbang ringan melintas agak rendah menarik perhatian kami yang ada di situ… mata dan kepala kami mengikuti arah perginya pesawat itu yang melesat lincah tinggi di langit… ia berputar cantik dan mengeluarkan asap warna… putih … Wow! … bagai pena ia menulis sesuatu di langit biru bersih… huruf demi huruf… y… r… r… o… s… lalu dengan manis ia berputar dan melesat menjauh tinggi kelihatan makin kecil lenyap tertutup awan…

Kami terpana membaca jelas di langit biru … s o r r yHari itu, 26 Januari 2007, adalah Australia Day pertama buatku sejak pindah ke Sydney bulan Desember 2006. Kami terdiam… ferry tetap melaju… pesan “sorry” di langit makin memudar di langit… namun aku menyimpannya di hati ditambah tanya di benakku… pesan itu dari siapa dan untuk siapa? … Itu pertanyaan pertamaku saat berjumpa sahabatku yang menjemput di Circular Quai.

Pesan itu dari kaum Aborigin (penduduk asli benua Australia) yang minta kepada pemerintahan John Howard untuk say sorry, karena parlemen dan pemerintah telah memisahkan anak-anak dari ibu mereka, untuk alasan menyelamatkan generasi itu dari kekerasan domestik. Lebih dari 50.000 anak dari tahun 1910 hingga 1970 diambil dan dipisahkan dengan paksa, bahkan antara kakak dan adik kandung. Mereka disebut dengan “the stolen generations”.

Saya menyaksikan hari bersejarah itu, 13 Februari 2008, PM Kevin Rudd atas nama Parlemen dan Pemerintah secara resmi minta maaf, … say sorrykepada “the stolen generations” serta segenap keluarga mereka. Mengakhiri penantian, duka, luka, hinaan, dan derita panjang akibat hukum dan tindakan Parlemen dan Pemerintah.

Bukan hanya kaum Aborigin tetapi segenap warga Australia mencucurkan air mata, mendengarkan langsung maupun menyaksikan lewat layar kaca, pidato dengan 361 kata “apologise” PM Kevin Rudd selama setengah jam dari pukul 09.00-09.30 itu.

“Maafkan” … “sorry” … seketika melegakan, memulihkan, mendamaikan… di detik itu…

🙂

🙂

Maaf dan pengampunan itu menyembuhkan, bagi yang minta maaf maupun yang mengampuni. Katakan, jangan hanya disimpan di hati. Gengsi takkan menolong, malah mengipas bara di dalam dada. Letakkan, dan katakan, “Maafkan aku.” Seketika kerendahan hati dan damai Allah mengisi relung hatimu, meronai hidupmu, dan menjadi milikmu. Katakan.

Awan Lembayung

Sore itu di jam pulang kantor, kereta api yang aku tumpangi bergerak dari stasiun Parramatta menuju Sutherland, Sydney. Bersyukur aku masih mendapat tempat duduk. Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat, tubuhku terasa lemas, tenaga serasa terkuras selesai wawancara kerja dari pagi jam sebelas hingga jam satu siang di Castle Hill—yang jarak tempuhnya ke Parramatta dua jam lebih dengan bis.

Aku menghela nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelahan, duduk bersandar, mengendorkan otot-otot kaki dan badan, berusaha menyiapkan diri untuk menghadapi wawancara kerja sebentar malam di Sutherland. Namun suara cecaran pertanyaan tajam salah satu pewawancara tadi memenuhi benakku, bercampur suara protes keras di batinku tak terima hak-hakku dilanggar… gemuruhnya seolah mengalahkan gelegar canda tawa para pelajar yang berdiri berdesakkan di depan tangga di dalam kereta dua tingkat itu. … Air mata mulai merebak di mataku… .

Dari tempat dudukku di deretan sebelah kiri itu, aku melayangkan pandanganku ke jendela sebelah kanan, menembusi bagian atasnya yang terbuka, terlihat langit berwarna lembayung… Awan yang berarak-arakan tertimpa sinar matahari yang akan terbenam… Hmmm… cantik!…  Seketika kelelahan dan ketegangan terasa mereda bersamaan dengan luruhnya kemarahan di dalamku. Dengan pelahan aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelahan… “Terima kasih untuk alam indah ciptaan-Mu ya Tuhan,” bisikku kepada-Nya di hati, air mataku meleleh pelan… tenteram.

🙂

🙂

Jangan marah karena orang yang berbuat curang, saat kamu menoleh mereka telah tiada. Allah Hakim Mahaadil melihat hati. Bila amarah bergemuruh, berbaringlah, rileks, utarakan semua kepada Allah, tetap tutup mulut. Allah mengerti, Allah melihat, Allah peduli. Boleh marah, tetapi letak tepatnya bukan di atas kepala, atau dalam dada. Di tangan. Serahkan berkas perkara kepada-Nya. Jangan mentari terbenam kala kamu masih marah. Bersukacita di dalam Tuhan! Rahasianya.

Penolongku 24/7

Hening, aku dan para peserta seminar kepemimpinan tingkat lanjut yang lain memandang tampilan di layar.  Terpampang di sana badan pesawat yang jatuh hancur terbelah di puncak salah satu bukit di Bolivia.

Aku mengalihkan pandanganku pada Pembicara yang berdiri di samping kanan layar itu, dengan ketenangan dalam suaranya ia melanjutkan kisahnya, “… Orang itu menyampaikan berita bahwa pesawat yang dikemudikan oleh suami saya telah jatuh dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Ia bertanya, ‘Apa yang harus kami lakukan?’

‘Tunggu sebentar,’ jawab saya, “Saya berlutut dan bertanya pada Tuhan, Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana hidup saya tanpa suami di sisi saya? …

“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
dari manakah akan datang pertolonganku?
Pertolonganku ialah dari TUHAN,
yang menjadikan langit dan bumi.”

… kamu tidak sendirian, dengan atau tanpa suamimu, AKU TUHAN penolongmu.”

Saya bangkit dan berkata, ‘Antar saya ke sana.’ Menurut perhitungan manusia tidak mungkin suami saya masih hidup,” lanjutnya, “Suami saya ditemukan dan ia masih hidup bersama saya. Sampai sekarang ia masih menerbangkan para pasien dengan pesawat agar mendapat pertolongan di rumah sakit. Tapi sejak itu saya berubah, TUHAN penolong saya, dengan atau tanpa suami, saya tak sendirian.”

🙂

🙂

Tuhan mengenal tiap orang dengan sempurna, Ia Penciptanya. Ia tahu di mana titik nol tiap orang. Lajang maupun menikah, sama. Tiap orang yang ingin mengenal-Nya, dibawa-Nya ke titik itu, untuk menyadari tidak ada apa pun dan siapa pun yang dapat dan patut diandalkan, selain Dia. Itu menjadi titik awal melangkah sendiri bersama Tuhan, mengalami Tuhan Penolongku tiap saat, 24/7. Sejak itu cari Dia dulu, bukan yang lain.

Ia menjagamu 24/7

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;

dari manakah akan datang pertolonganku?

Pertolonganku ialah dari TUHAN,

yang menjadikan langit dan bumi.

Ia takkan membiarkan kakimu goyah,

Penjagamu tidak akan terlelap.

Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.

Tuhanlah Penjagamu,

Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.

Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang,

atau bulan pada waktu malam.

TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan;

Ia akan menjaga nyawamu.

TUHAN akan menjaga keluar masukmu,

dari sekarang sampai selama-lamanya.

Mazmur 121